Kajian Beberapa Varietas Unggul Baru Padi dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada Lahan Pasang Surut
Kajian beberapa Varietas Unggul Baru Padi dengan Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada Lahan Pasang Surut
Beras
merupakan sumber utama gizi dan energi bagi 90% penduduk Indonesia,
dengan tingkat konsumsi rata-rata 141 kg/kapita/tahun, sehingga
dibutuhkan 30,5 juta ton beras atau setara dengan 48,4 juta ton
GKG/tahun. Upaya pengembangan dan peningkatan produksi beras nasional
mutlak diperlukan dengan sasaran utama pencapaian swasembada,
peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Sebagai bangsa yang
besar Indonesia harus mandiri pangan sebagai kunci dari ketahanan
nasional. Untuk itu maka pemerintah mencanangkan Program Peningkatan
Produksi Beras Nasional (P2BN) 2 juta ton pada akhir tahun 2007 dan
peningkatan produksi sebesar 5% per tahun sampai tahun 2009. Pelaksanaan
P2BN di Kalimantan Barat pada tahun 2007 menargetkan tanam padi sekitar
133.698 ha. Luas panen tanaman padi di Kalimantan Barat 399.832 ha,
dengan rata-rata produksi 3,06 ton/ha dengan tingkat produksi 1.225.259
ton. Sedangkan di Kabupaten Sambas yang merupakan sentral tanaman padi
mempunyai luas panen 78.515 ha, atau (19,6% dari luas tanam di Kalbar),
rata-rata produksi 3,24 ton/ha dengan produksi 254.610 ton.
Strategi yang digunakan untuk
Peningkatan Produksi Beras Nasional yaitu melalui peningkatan
produktivitas tanaman dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu
(PTT), yang dilakukan melalui pendekatan dalam pengelolaan lahan, air,
tanaman dan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Konsep ketahanan pangan yang dicanagkan
oleh pemerintah akan sulit tercapai apabila hanya mengandalkan produksi
padi dari lahan sawah irigasi. Kondisi saat ini banyak terjadi alih
fungsi lahan pertanian dan semakin menurunya produktivitas lahan sawah
akibat pengusahaan lahan secara intensif. Dengan demikian perlu mencari
sumber pertumbuhan produktif padi pada ekosistem lainnya selain terus
mengupayakan peningkatan hasil padi pada lahan sawah dengan berbagai
cara, termasuk pengembangan padi hibrida, padi tipe unggul baru dan
pengelolaan secara tanaman terpadu.
Salah satu agroekosistem yang memiliki
prospek untuk dijadikan areal produksi pangan, terutama tanaman padi
adalah lahan pasang surut. Lahan tersebut merupakan lahan marginal
memiliki kesuburan tanah yang rendah dan beragam sehingga memiliki
kendala dalam pengelolaannya. Lahan pasang surut juga dikenal sebagai
lahan bermasalah, terutama mengenai pirit yang tinggi, menimbulkan
keasaman dan keracunan sehingga tidak semua varietas padi dapat tumbuh
baik. Untuk itu dilakukan uji adaptasi beberapa varietas unggul baru
yang mempunyai potensi hasil tinggi seperti Inpara 1, Inpara 2, Air
Tenggulang dan Ciherang sebagai varietas pembanding yang sudah lama di
tanam oleh petani. Uji adaptasi varietas Inpara 1, Inpara 2 dan Air
Tenggulang dilakukan didasari oleh luasnya lahan pasang surut di
Kabupaten Sambas sedangkan varietas yang selalu ditanam adalah varietas
ciherang, oleh sebab itu uji adaptasi ini dilakukan untuk mencari
varietas yang cocok dan sesuai sehingga petani tidak terpaku pada
varietas ciherang saja.
METODE PELAKSANAAN
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa
Segedong Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas, yang dilaksanakan pada bulan
Juni sampai Oktober 2009, dengan menggunakan varietas Air Tenggulang
kelas BS, Inpara 1 dan Inpara 2 kelas FS dan Ciherang hasil panen petani
dengan luasan 1 ha.
Sebelum dilakukannya pengkajian terlebih
dahulu dilakukan PRA untuk menggali masalah utama yang dihadapi petani,
melakukan penyusunan komponen teknologi yang sesuai dengan
karakteristik wilayah dan menerapkan paket teknologi utama PTT yang
bersifat spesifik lokasi. Paket teknologi yang diterapkan dilokasi
kegiatan pengkajian tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Komponen Teknologi Padi Pasang Surut dengan Pendekatan PTT dan Pola petani
|
No |
Komponen Teknologi dengan Pendekatan PTT |
Komponen Teknologi dengan pola Petani |
|
1 2 3 4 5 6 |
Varietas Air Tenggulang, Inpara 1 dan Inpara 2 Benih bermutu dan sehat lebel putih dan Ungu (Pokok) Dosis pupuk berdasarkan anlisis tanah (SP-36 105 kg/ha, KCl 40 kg/ha. Urea 220 kg/ha dan pupuk organik Petroorganik 500 kg/ha) Pengendalian hama terpadu sesuai OPT sasaran Jumlah bibit yg ditanam 2-3 bibit & cara tanam legowo 4:1 Umur bibit 15 – 21 hari |
Varietas Ciherang Benih yg digunakan berasal dari hasil panen sebelumya Dosis pupuk urea 50 kg/ha dan NPK Phonska 40 kg/ha, tergantung pada kemampuan petani untuk membeli Penggunaan pestisida tidak sesuai anjuran Jumlah bibit yg ditanam 3-6 bibit & cara tanam tegel yg tidak beraturan Umur bibit 25 – 30 hari |
HASIL
Karakteristik dan Status Lokasi Pengkajian
Pengelolaan air dan tanah secara tepat
merupakan salah satu kunci keberhasilan pengembangan usahatani padi di
lahan pasang surut. Lahan bertipe luapan C dan D tidak memungkinkan
dilakukan irigasi karena sumber air hanya dari hujan dan hutan. Lahan
pasang surut tipologi potensial dan sulfat masam mempunyai prospek yang
baik untuk diaplikasikan dengan bahan organik. Bahan organik dalam
bentuk yang telah dikomposkan ataupun segar berperan penting dalam
perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah serta sumber nutrisi
tanaman.
Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi
Dari ketiga varietas padi introduksi
yang ditanam tinggi tanaman rerata yang diukur pada saat panen, hasilnya
dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini
Tabel 2. Keragaan Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi Pada Lahan Pasang Surut
|
Komponen hasil |
Varietas Unggul Baru
|
|||
|
Inpara 1 |
Inpara 2 |
Air Tenggulang |
Ciherang (Petani) |
|
|
Tinggi tanaman (cm) |
87.6 a |
78.4 b |
79 b |
68.2 c |
|
Jml Anakan Produktif |
19.8 a |
20 a |
14.2 b |
9.1 c |
|
Jml Gabah (Bulir) |
133.6 a |
107.4 b |
105.4 b |
79.2 c |
|
Jml Gabah Bernas (%) |
84.7 a |
89.1 a |
89.7 a |
68.8 b |
|
Produksi gkp (ton/ha) |
3.75 |
3.55 |
3.4 |
1.5 |
Angka-angka yang diikuti oleh huruf
kecil yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda tidak nyata
menurut uji lanjut DMRT pada taraf 5%.
Dari ketiga varietas ini ternyata cocok
untuk lahan pasang surut, namun produksi ini masih rendah dibandingkan
deskripsi varietas Inpara 1 (5,65 ton/ha), Inpara 2 (5,49 ton/ha) dan
Air Tenggulang (5 ton/ha). Hal ini disebabkan karena pada saat
pengkajian rata-rata curah hujan kurang dari 150 mm/ bulan. Kondisi
kesuburan tanah pada daerah pengkajian tergolong rendah, pengolahan
lahan belum sempurna serta adanya serangan hama tikus dan walang sangit
yang cukup tinggi.
Melihat pertumbuhan dan produksi tanaman
padi varietas Inpara 1, Inpara 2 dan Air Tenggulang, petani dan petugas
lapang merasa tertarik untuk terus menanam untuk musim tanam
selajutnya, namun yang sangat disukai adalah Inpari 1 karena tahan
terhadap kekeringan.
Selain penerapan teknologi yang tepat,
faktor alam seperti anomali iklim juga sangat menentukan terhadap
produksi dan keuntungan petani. Bukti nyata pentingnya inovasi teknologi
dalam pembangunan pertanian dapat dilihat antara lain dari peningkatan
produksi padi dari tahun ketahun. Penurunan produksi padi lebih banyak
disebabkan oleh serangan hama penyakit dan anomali iklim.
Sumber : http://kalbar.litbang.pertanian.go.id

Komentar
Posting Komentar