Perakitan rekomendasi teknologi budidaya
padi terus diperbaiki dan disempurnakan untuk mempertahankan swasembada
beras tingkat nasional. Melalui pengkajian yang komprehensif di
lapangan, produksi padi dapat ditingkatkan hingga di atas 60% melalui
penerapan teknologi Jajar Legowo Super (Jarwo Super).
Keunggulan teknologi Jajar Legowo Super
telah diuji melalui demarea seluas 50 ha pada lahan sawah irigasi di
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, musim tanam 2016. Penerapan teknologi
Jajar Legowo Super secara utuh oleh petani diyakini mampu memberikan
hasil 10 ton GKG/ha per musim.
Teknologi Jajar Legowo Super dicirikan oleh
penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) yang memiliki potensi hasil
tinggi, penggunaan biodekomposer saat pengolahan tanah, pupuk hayati
sebagai seed treatment dan pemupukan berimbang, pengendalian
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati,
percepatan tanam menggunakan alsintan dan panen dengan combine harvester.
Penelitian pengembangan di lahan petani
dilakukan di 10 provinsi penghasil beras utama (NAD, Sumut, Sumsel,
Lampung, Jabar, Jateng, Jatim, Kalsel, Sulsel, dan NTB) dengan
melibatkan petani koooperator dan non kooperator sejumlah 1802 orang
(1242 menggunakan teknologi Jarwo Super dan 560 Non Jarwo Super).
Petani kooperator dan non kooperator
dipilih secara acak dari 10,000 ha lahan sawah yang dicakup dalam
pengembangan Jarwo Super. Variabel sosial ekonomi yang dianalisis
meliputi komponen biaya dan pendapatan usahatani serta preferensi
petani. Analisis kelayakan ekonomi dilihat dari R/C dan MBCR, sedangkan
kelayakan sosial dilihat dari hasil analisis kemauan petani untuk
menerapkan (willingness to accept) inovasi teknologi tersebut.
Hasil penelitian pengembangan ini
menunjukkan bahwa hasil padi rata-rata dari petani Jarwo Super adalah
7,0 t/ha sedangkan petani non jarwo super hanya 5,9 t/ha. Selisih hasil
yang cukup besar (1,1 t/ha) dicapai melalui penggunaan varietas unggul
baru (Inpari 30, Inpari 32, Inpari 33), tenaga kerja lebih intensif (4
HOK/ha), penggunaan pupuk hayati (400 g/ha), decomposer M-Dec (1,5
kg/ha), bioprotector (0,25 liter/ha), dan tambahan pupuk anorganik yang
lebih berimbang.
Kelayakan usahatani jarwo super lebih
tinggi dari pada non jarwo super seperti ditunjukkan oleh nilai R/C atau
perbandingan antara penerimaan usaha dengan total biaya adalah 3,29
berbanding 2,94. Walaupun hasil padi yang menggunakan teknologi Jarwo
Super rata-rata di Luar Jawa lebih tinggi dari pada di Jawa (7,0 t/ha vs
6,8 t/ha), namun Marginal Benefit Cost Ratio (MBCR) di Jawa Lebih tinggi dari pada di Luar Jawa (8,6 vs 5,0).
Artinya tambahan manfaat menerapkan
teknologi Jarwo Super lebih tinggi di Jawa. Secara umum hampir di semua
provinsi kegiatan jarwo super dinilai layak untuk diterapkan dan
dikembangkan karena memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dari pada
usahatani petani eksisting.
Sebagian besar responden (94,4%) menyatakan
tertarik untuk mengadopsi teknologi Jarwo Super dan hanya sebagian
kecil responden (5,6%) yang kurang tertarik karena hasil padi yang
kurang baik.
Petani yang menyatakan tertarik adalah
petani yang mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani dan tamat
pendidikan dasar. Kendala penerapan Jarwo Super adalah paket teknologi
yang diterapkan tidak sesuai dengan anjuran (pupuk dan pestisida), tanam
pindah dilakukan manual (transplanter tidak tersedia), paket teknologi
Jarwo Super tidak diterapkan secara penuh (Agrimeth, M-Dec,
Bioprotector, dan pupuk kimia). (uje)
Sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id

Komentar
Posting Komentar