Tanam Sekali, Petani Panen Padi Berkali-kali dengan Teknik Salibu Jarwo
pada tanggal
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Pada bulan ini, petani di sejumlah daerah di Banyumas, Jawa Tengah, dan wilayah sekitarnya telah memulai panen raya masa tanam pertama (MT 1). Mereka pun bersiap mempersiapkan lahan untuk tanaman musim kedua (MT 2).
Beragam metode tanam digunakan untuk memacu agar hasil panen padi
melimpah. Mulai tanam teknis tradisional, jejer legowo, hingga teknik The System of Rice Intensifications (SRI).
Masa tanam kedua, petani di kawasan sawah tadah hujan atau marginal,
berhadapan dengan minimnya sumber pengairan. Mereka pun beradu cepat
dengan kemarau yang biasanya tiba pada akhir Juni atau Juli.
Harapannya, saat kemarau tiba, tanaman padi telah berbuah atau
setidaknya telah dewasa, sehingga relatif resisten terhadap cekaman
kekeringan. Sayangnya, sering kali hasil panen padi jauh dari yang diharapkan.
Sebab itu, petani tadah hujan pun memilih varietas padi jenis cere
atau hibrida yang berumur pendek dan dipadukan teknik tanam tertentu.
Terutama agar tanaman padi mereka tetap menghasilkan panen melimpah pada
musim kemarau.
Untuk meningkatkan pendapatan petani di kawasan tadah hujan, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengembangkan teknologi Salibu Jarwo Super, yakni teknik tanam yang memungkinkan petani panen padi setidaknya dua kali dengan hanya tanam padi sekali.
Pada
teknik ini, petani memanfaatkan tunas yang keluar dari bonggol tanaman
padi yang telah dipanen. Untuk memastikan tunas tumbuh dengan baik,
bonggol padi harus dikeperas nyaris rata dengan tanah, menyisakan sekitar 5 centimeter bonggol padi.
Dari bonggol itu, tunas baru akan beregenerasi dan dimanfaatkan
sebagai tanaman baru, tanpa pengolahan lahan lagi. Dengan teknik ini,
masa pengolahan lahan dan penyemaian benih dapat dipangkas hingga 1,5
bulan, dengan hasil panen nyaris menyamai hasil panen dengan menggunakan
benih baru.
Pengembang teknik Salibu Jarwo Super, Prof. Totok Agung Dwi Haryanto
menerangkan, teknik ini merupakan penyempurnaan dari teknologi Salibu
yang telah dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
(Balitbangtan) Kementerian Pertanian.
Produksi padi dilakukan dengan menumbuhkan kembali tunas rumpun padi
yang sebelumnya dibudidayakan secara Jarwo Super secara intensif dengan
melibatkan pupuk hayati, biodekomposer, pengendaliah hama dan penyakit
terpadu.
"Hasil panen ini dapat diperoleh tanpa petani perlu melakukan
pengolahan lahan, persemaian, dan pindah tanam yang membutuhkan banyak
waktu, biaya, dan tenaga kerja sebagaimana umumnya bercocok tanam padi,"
ucap Totok, dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, beberapa waktu lalu.
Demi
capaian hasil yang maksimal, komponen teknologi utama ini
dikombinasikan dengan penggunaan varietas unggul padi. Antara lain,
toleran kekeringan, berdaya hasil tinggi, memiliki ketahanan terhadap
hama dan penyakit, responsif terhadap teknik budi daya salibu, dan pupuk
organik.
Totok menerangkan, beberapa varietas padi yang potensial untuk
dibudidayakan secara salibu di antaranya adalah Inpago Unsoed 1.
Varietas yang dikembangkan Unsoed ini terbukti mampu berproduksi lebih
tinggi dibandingkan dengan padi varietas Mekongga dengan cara tanam
pindah biasa.
“Dicoba pada pertanian terpadu di Desa Gandrungmanis Kecamatan
Gandrungmangu Kabupaten Cilacap,” kata Totok, yang juga Direktur Program
Pascasarjana Unsoed.
Produktivitas lahan meningkat dari semula 4-4,7 ton per hektare untuk
padi menjadi 8-10,5 ton hektare. Pada masa tanam kedua, produktivitas
mencapai 6,5 ton per hektare dengan sistem salibu dengan efisiensi biaya
produksi sebesar Rp 3,4 juta per hektare.
Verietas padi Inpago 1 ini diklaim juga tahan terhadap kekeringan,
daya hasil yang tinggi di lahan kering maupun di lahan sawah, tahan
terhadap wereng batang coklat biotipe 1 dan blas leher batang ras 133
serta responsif pupuk.
Dan yang lebih penting lagi, daya regenerasi varietas Inpago 1
tercatat lebih dari 95 persen. Karenanya, padi ini berpotensi mendekati
hasil panen pada saat dibudidayakan secara tanam pindah.
“Galur padi protein tinggi yang dihasilkan oleh peneliti Unsoed juga
sebelumnya terbukti memliki daya regenerasi tinggi, sehingga mampu
berproduksi tinggi jika dibudidayakan secara salibu,” Totok memaparkan.
Varietas unggul padi lain yang juga potensial dikembangkan secara
salibu di antaranya adalah Inpari 24, Inpari 32 dan Situbagendit, yang
dihasilkan oleh Balitbangtan, seperti yang diujicobakan di Desa
Karangtengah, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.
Sekretaris Pusat Penelitian Tanaman Padi dan Kedelai LPPM Unsoed,
Dyah Susanti menambahkan, untuk menunjang penerapan teknologi salibu
jarwo super agar berdaya hasil maksimal, petani bisa mengaplikasikan
penyemprotan bioprotektor dan mekanisasi.
Biopretektor merupakan biopestisida nabati hasil penelitian
Balitbangtan yang fokus pada perlindungan tanaman. Sebab, teknik salibu
jarwo super mensyaratkan kondisi tanaman padi yang sehat untuk dapat
ditumbuhkan kembali tunasnya untuk pertanaman berikutnya.
Pengendalian hama dan penyakit tanaman menggunakan bioprotektor
inovas DR Wiratno, yang juga merupakan alumni Fakultas Pertanian Unsoed
ini telah terbukti mampu mencegah, mengendalikan, dan meningkatkan
ketahanan tanaman padi yang dibudidayakan secara Jarwo Super. Dengan
kondisi itu, secara fisik tanaman berada dalam kondisi siap untuk
ditumbuhkan tunasnya.
“Karena serangan wereng petani Desa Karangtengah yang mengaplikasikan
biopreotektor tetap bisa panen dengan penurunan hasil yang tidak
terlalu besar, kurang dari 30 persen. Tanpa penggunaan bioprotektor,
petani di sekitar lokasi percobaan kehilangan hasil 50 persen hingga 90
persen, bahkan ada yang mengalami gagal panen,” Dyah menjelaskan.
Penulis : Muhamad Ridlo Sumber : http://regional.liputan6.com
Komentar
Posting Komentar